Jakarta, LINTAS PENA

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) mentargetkan sebanyak 10 persen siswa dari kelompok keluarga miskin dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Target ini ditetapkan untuk menaikkan angka partisipasi kasar (APK). Ada tiga skenario yang telah dipersiapkan Kemdiknas.

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menyampaikan, untuk meningkatkan akses siswa miskin dilakukan dengan memberi beasiswa BIDIK MISI bagi 20 ribu calon mahasiswa. Langkah kedua, meminta perguruan tinggi, terutama negeri, untuk memberikan tempat khusus bagi siswa miskin. “Ketiga, kami ajak perusahaan dengan memanfaatkan corporate social responsibility (CSR) untuk memotong mata rantai terlemah,” katanya seusai silaturahim Hari Raya Idul Fitri 1431 H di Kemdiknas, Jakarta, Rabu kemarin.

Mendiknas mengungkapkan, jumlah siswa miskin yang dapat masuk ke perguruan tinggi pada 2008 sebanyak empat persen, sedangkan pada 2009 mencapai 6,19 persen. “Ada kenaikan dua persen dari seluruh populasi orang yang sangat miskin,” katanya.

Pada sisi lain, Mendiknas menyampaikan saat ini Kemdiknas sedang mengkaji inflasi di dunia pendidikan. Kajian ini dilakukan untuk melihat peningkatan biaya di dunia pendidikan. “Dengan kajian inflasi pendidikan kita harapkan ada policy (kebijakan) baru,” ujarnya.

Mendiknas melanjutkan, dengan kebijakan baru ini diharapkan mampu meningkatkan keterjangkauan masyarakat untuk mengenyam pendidikan. Mendiknas mencontohkan, pihaknya bersama pemerintah daerah bertekad pada 2011 mampu melunasi jumlah ketersediaan buku teks pelajaran di sekolah. “Kami lunasi buku SD lunas sembilan mata pelajaran, sedangkan buku SMP lunas 10 mata pelajaran, sekaligus LKS dan KKS,” katanya.

Mendiknas menyampaikan, saat ini dana bantuan operasional sekolah (BOS) telah memenuhi ketersediaan tujuh dari sembilan buku mata pelajaran SD dan tujuh dari sepuluh buku mata pelajaran SMP. (agung/kemdiknas)***