Oleh : Drs. Zaenal Muttaqin, M.Pd.

DEFINISI yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari adalah bahwa guru merupakan orang yang harus digugu dan ditiru, dalam hal orang yang memiliki kharisma atau wibawa hingga perlu untuk ditiru dan diteladani. Sejatinya guru bukanlah orang yang wagu dan saru. Mengutip pendapat Laurence D. Hazkew dan Jonathan C. Mc Lendon dalam bukunya This is Teaching (hal :10) guru adalah seseorang yang mempunyai kemampuan dalam menata dan mengelola kelas. Sedangkan menurut Jean D. Grambs dan C Morris Mc Clare dalam Fondation of teaching, An Introduction to Modern Education (hal :141), guru adalah mereka yang secara sadar mengarahkan pengalaman dan tingkah laku dari seorang individu hingga dapat terjadi pendidikan..

Guru adalah sesorang yang memberi ilmu dan keterampilan serta teladan kepada orang lain, sehingga yang bersangkutan mengetahui dan mampu mengerjakan tujuan ilmu itu. Guru hendaklah seseorang yang merasa terpanggil untuk menjadi guru, bukan sekedar untuk mendapat penghasilan untuk menyambung hidup. Menjadi guru adalah pilihan hidup, dan pekerjaan ini harus dilaksanakan dengan penuh dedikasi, dengan tujuan hasil yang sebaik-baiknya dari ilmu dan ketrampilan yang diberikan. Untuk mencapai semuanya itu, guru hendaklah bebas dari tuntutan-tuntutan memenuhi kebutuhan primer dan sebagainya, agar dia dapat berkonsentrasi dalam menjalankan tugasnya. Guru harus diperlengkapi dengan sarana mengajar yang cukup, dan mendapat jaminan kesejahteraan hidupnya sekeluarga. Guru hendaklah seorang yang disegani dan menjadi contoh bagi murid-murid dan lingkungan pergaulannya. Perlu dicatat bahwa waktu yang dibutuhkan guru bukanlah hanya untuk mengajar dan berdiri di depan kelas, tetapi jauh lebih dari itu. Guru harus menyiapkan diri untuk memberikan ilmu, keterampilan (skill), dan teladan baik yang menjadi tanggung jawabnya, agar murid-muridnya betul-betul menjadi tahu dan mampu berbuat sebagaimana mestinya. Guru membutuhkan waktu sepanjang siang dan malam untuk menjalankan tugas dan kewajibnannya. Tidak ada waktu yang tersisa untuk keperluan lain, apalagi untuk mencari tambahan penghasilan.

Jadi, guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merangsang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan. Sedangkan dalam kegiatan proses pembelajaran tersebut, agar tujuan yang diharapakn dapat tercapai secara maksimal, maka guru harus memiliki kompetensi dalam mengajar. Kompetensi adalah kekuatan mental dan fisik untuk melakukan tugas atau keterampilan yang dipelajari melalui latihan dan praktik (JJ. Litrell :310).

Majid (2005:6) menjelaskan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Diyakini Robotham (1996:27), kompetensi yang diperlukan oleh seseorang tersebut dapat diperoleh, baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman. Adapun Muhibbin Syah (2000:229) mengemukakan pengertian dasar kompetensi sebagai kemampuan atau kecakapan. Uzer Usman (1994:1) mengemukakan kompentensi berarti suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun yang kuantitatif. Mc.Ahsan (1981:45), sebagaimana dikutip oleh Mulyasa (2003:38) mengemukakan bahwa kompetensi dapat diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Sejalan dengan itu Finch & Crunkilton (1979:222), di dalam Mulyasa (2003:38) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan

Kompetensi guru adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Kompetensi guru tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, dan lamanya mengajar. Kompetensi guru dapat dinilai penting sebagai alat seleksi dalam penerimaan calon guru, juga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam rangka pembinaan dan pengembangan tenaga guru.Sealain itu, penting dalam hubungannya kegiatan belajar mengajar dan hasil belajar siswa. Dengan kompetensi profesional tersebut, dapat diduga berpengaruh pada proses pengelolaan pendidikan sehingga mampu melahirkan keluaran pendidikan yang bermutu. Keluaran pendidikan yang bermutu dapat dilihat dari hasil langsung pendidikan yang berupa nilai yang dicapai siswa dan dapat juga dilihat dari dampak pengiring, yaitu peserta didik setelah di masyarakat.

Dalam rangka turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, peranan guru sangat penting untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia. Kita sadari, bahwa peran guru sampai saat ini masih eksis, sebab sampai kapan pun posisi/peran guru tersebut tidak akan bisa digantikan sekalipun dengan mesin sehebat apa pun, mengapa ? Karena, guru sebagai seorang pendidik juga membina sikap mental yang menyangkut aspek-aspek manusiawi dengan karakteristik yang beragam dalam arti berbeda antara satu siswa dengan lainnya. Banyak pengorbanan yang telah diberikan oleh seorang guru semata-mata ingin melihat anak didiknya bisa berhasil dan sukses kelak. Tetapi perjuangan guru tersebut tidak berhenti sampai disitu, guru juga merasa masih perlu meningkatkan kompetensinya agar benar-benar menjadi guru yang lebih baik dan lebih profesional terutama dalam proses belajar mengajar sehari-hari.

Pada dasarnya terdapat seperangkat tugas yang harus dilaksanakan oleh guru berhubungan dengan profesinya sebagai pengajar.Tugas guru ini sangat berkaitan dengan kompetensi profesionalnya. Hakikat profesi guru pada dasarnya merupakan suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Walaupun pada kenyataannya masih terdapat hal-hal tersebut di luar bidang kependidikan.

Indikator seseorang yang memiliki kompetensi apabila dapat melakukan sesuatu, hal ini sesuai dengan pendapat Munandar (2008) bahwa, kompetensi merupakan daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Pendapat ini, menginformasikan dua faktor yang mempengaruhi terbentuknya kompetensi, yakni ; (a) faktor bawaan, seperti bakat, dan (b) faktor latihan, seperti hasil belajar.

Prof. Dr. Soedijarto menjelaskan bahwa guru yang memiliki kompetensi profesional perlu menguasai antara lain :

(a) disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran,

(b) bahan ajar yang diajarkan,

(c) pengetahuan tentang karakteristik siswa,

(d) pengetahuan tentang filsafat dan tujuan pendidikan, (e) pengetahuan serta penguasaan

metode dan model mengajar,

(f) penguasaan terhadap prinsip-prinsip teknologi pembelajaran,

(g) pengetahuan terhadap penilaian, dan mampu merencanakan, memimpin, guna

kelancaran proses pendidikan.

Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mendeskripsikan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi profesional adalah berbagai kemampuan yang diperlukan agar dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional. Kompetensi profesional meliputi kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkan beserta metodenya, rasa tanggung jawab akan tugasnya dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for Teacher Education, mengemukakan kompetensi profesional guru mencakup kemampuan dalam hal (1) mengerti dan dapat menerapkan landasan pendidikan baik filosofis, psikologis, dan sebagainya, (2) mengerti dan menerapkan teori belajar sesuai dengan tingkat perkembangan perilaku peserta didik, (3) mampu menangani mata pelajaran atau bidang studi yang ditugaskan kepadanya, (4) mengerti dan dapat menerapkan metode mengajar yang sesuai, (5) mampu menggunakan berbagai alat pelajaran dan media serta fasilitas belajar lain, (6) mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pengajaran, (7) mampu melaksanakan evaluasi belajar dan (8) mampu menumbuhkan motivasi peserta didik. Johnson sebagaimana dikutip Anwar (2004:63) berpendapat lain bahwa kemampuan profesional mencakup (1) penguasaan pelajaran yang terkini atas penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan bahan yang diajarkan tersebut, (2) penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, (3) penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa. Sedangkan menurut Arikunto (1993:239) kompetensi profesional mengharuskan guru memiliki pengetahuan yang luas dan dalam tentang subject matter (bidang studi) yang akan diajarkan serta penguasaan metodologi yaitu menguasai konsep teoretik, maupun memilih metode yang tepat dan mampu menggunakannya dalam proses belajar mengajar.

Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi profesional meliputi (1) pengembangan profesi, pemahaman wawasan, dan penguasaan bahan kajian akademik.Pengembangan profesi meliputi (1) mengikuti informasi perkembangan iptek yang mendukung profesi melalui berbagai kegiatan ilmiah, (2) mengalihbahasakan buku pelajaran/karya ilmiah, (3) mengembangkan berbagai model pembelajaran, (4) menulis makalah, (5) menulis/menyusun diktat pelajaran, (6) menulis buku pelajaran, (7) menulis modul, (8) menulis karya ilmiah, (9) melakukan penelitian ilmiah (action research), (10) menemukan teknologi tepat guna, (11) membuat alat peraga/media, (12) menciptakan karya seni, (13) mengikuti pelatihan terakreditasi, (14) mengikuti pendidikan kualifikasi, dan (15) mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.Pemahaman wawasan meliputi (1) memahami visi dan misi, (2) memahami hubungan pendidikan dengan pengajaran, (3) memahami konsep pendidikan dasar dan menengah, (4) memahami fungsi sekolah, (5) mengidentifikasi permasalahan umum pendidikan dalam hal proses dan hasil belajar, (6) membangun sistem yang menunjukkan keterkaitan pendidikan dan luar sekolah.Penguasaan bahan kajian akademik meliputi (1) memahami struktur pengetahuan, (2) menguasai substansi materi, (3) menguasai substansi kekuasaan sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan siswa.Berdasarkan uraian di atas, kompetensi profesional guru tercermin dari indikator (1) kemampuan penguasaan materi pelajaran, (2) kemampuan penelitian dan penyusunan karya ilmiah, (3) kemampuan pengembangan profesi, dan (4) pemahaman terhadap wawasan dan landasan pendidikan

Tuntutan atas berbagai kompetensi ini mendorong guru untuk memperoleh informasi yang dapat memperkaya kemampuan agar tidak mengalami ketinggalan kereta dalam kompetensi profesionalnya. Semua hal yang disebutkan di atas merupakan hal yang dapat menunjang terbentuknya kompetensi guru. Kompetensi profesional tersebut berpengaruh kepada proses pengelolaan pendidikan sehingga mampu melahirkan keluaran pendidikan yang bermutu. Keluaran yang bermutu dapat dilihat pada hasil langsung pendidikan yang berupa nilai kognitif yang dicapai siswa dan dapat juga dilihat dari dampak pengiring, yakni di masyarakat. Selain itu salah satu unsur pembentuk kompetensi profesional guru adalah tingkat komitmennya terhadap profesi guru dan didukung oleh tingkat abstraksi atau kemampuan menggunakan nalar.

Kompetensi profesional adalah seperangkat kemampuan yang wajib dimiliki oleh seorang guru agar ia dapat melaksanakan tugas mengajarnya dengan berhasil. Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, terdiri dari 4 (empat) yaitu ; kompetensi pribadi, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Keberhasilan guru dalam menjalankan profesinya sangat ditentukan oleh keempatnya dengan penekanan pada kemampuan mengajar. Dengan demikian, bahwa untuk menjadi guru profesional yang memiliki akuntabilitas dalam melaksanakan seluruh kompetensi tersebut, dibutuhkan tekad dan keinginan yang kuat dalam diri setiap guru atau calon guru untuk mewujudkannya. Sebagai seorang guru perlu mengetahui dan menerapkan beberapa prinsip mengajar agar seorang guru dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, yaitu sebagai berikut :

(1). Guru harus dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi mata pelajaran yang diberikan serta dapat menggunakan berbagai media dan sumber belajar yang bervariasi.

(2). Guru harus dapat membangkitkan minat peserta didik untuk aktif dalam berpikir serta mencari dan menemukan sendiri pengetahuan.

(3). Guru harus dapat membuat urutan (sequence) dalam pemberian pelajaran dan penyesuaiannya dengan usia dan tahapan tugas perkembangan peserta didik.

(4). Guru perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik (kegiatan apersepsi), agar peserta didik menjadi mudah dalam memahami pelajarannya yang diterimanya.

(5). Sesuai dengan prinsip repitisi dalam proses pembelajaran, diharapkan guru dapat menjelaskan unit pelajaran secara berulang-ulang hingga tanggapan peserta didik menjadi jelas.

(6). Guru wajib memerhatikan dan memikirkan korelasi atau hubungan antara mata pelajaran dan/atau praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

(7). Guru harus tetap menjaga konsentrasi belajar para peserta didik dengan cara memberikan kesempatan berupa pengalaman secara langsung, mengamati/meneliti, dan menyimpulkan pengetahuan yang didapatnya.

(8). Guru harus mengembangkan sikap peserta didik dalam membina hubungan sosial, baik dalam kelas maupun diluar kelas.

(9). Guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan peserta secara individual agar dapat melayani siswa sesuai dengan perbedaannya tersebut.

(10). Guru juga dapat melaksanakan evaluasi yang efektif serta menggunakan hasilnya untuk mengetahui prestasi dan kemajuan siswa serta menggunakan hasilnya untuk mengetahui prestasi dan kemajuan siswa serta dapat melakukan perbaikan dan pengembangan.

(11) Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang berkembang pesat, guru tidak lagi hanya bertindak sebagai penyaji informasi, tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri informasi.

Seorang guru yang profesioanl, dia harus memiliki kriteria-kriteria tertentu yang positif. Gilbert H. Hunt (1999) menyatakan bahwa guru yang baik itu harus memenuhi tujuh kriteria: sifat positif dalam membimbing siswa; pengetahuan yang mamadai dalam mata pelajaran yang dibina; mampu menyampaikan materi pelajaran secara lengkap; mampu menguasai metodologi pembelajaran; mampu memberikan harapan riil terhadap siswa;mampu merekasi kebutuhan siswa;mampu menguasi manajemen kelas.

Guru yang rendah tingkat komitmennya, ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut;(a). Perhatian yang disisihkan untuk memerhatikan siswanya hanya sedikit., (b). Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugasnya hanya sedikit.©. Perhatian utama guru hanyalah jabatannya. Sebaliknya, guru yang mempunyai tingkatan komitmen tinggi, ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut (a). Perhatiannya terhadap siswa cukup tinggi, (b). Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugasnya banyak,©. Banyak bekerja untuk kepentingan orang lain.
Pemberdayaan Profesionalitas Guru

Dengan menilik kondisi dan perkembangan dunia yang semakin mengglobal sementara kedudukan guru yang tidak tergeserkan dalam fungsinya sebagai pencerdas bangsa dan memajukan dunia pendidikan, tentunya menjadi keharusan. Profesionalitas guru wajib selalu ditingkatkan di samping perlu juga dilakukan program-program lain yang mendukung. Karena itu, guru jangan sampai hanya disibukkan dengan pekerjaan rutinitas mengajar meskipun memang sudah menjadi aktivitas harian yang dilakoni guru, tetapi juga harus mampu menampilkan aktivitas sesuai dengan fungsi dan peranan guru dalam pendidikan.

Menurut Irwan Prayitno (2008) beberapa hal yang perlu dilakukan dalam upaya memberdayakan guru adalah :

(1). Dengan karya nyata dan sikap seorang gurulah yang mampu mengangkat harkat dan martabatnya sendiri serta diakui keprofesionalannya oleh masyarakat.

(2). Guru perlu berpikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya guru harus melakukan pengayaan dan pembaruan di bidang ilmu, pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya secara terus-menerus.

(3). Mengefektifkan perubahan budaya mendengar dan mendongeng menjadi budaya membaca, menulis, dan diskusi. Karena dengan budaya membaca, menulis, dan diskusi akan tumbuh kehidupan ilmiah di tengah masyarakat khususnya di kalangan guru itu sendiri..

(4). Guru harus paham dan melakukan penelitian-penelitian guna mendukung efektifitas pengajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitian tersebut guru tidak terjebak dengan praktek pengajaran yang menurut asumsinya sudah efektif, namun kenyataannya justru bisa mematikan kreativitas peserta didiknya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian dapat memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

(5). Guru pun mesti mampu melakukan dialektika dengan realitas kehidupan (kontekstual) hari ini. Hal ini dianggap penting, karena tanpa adanya dialektika dengan realitas kehidupan akan kehilangan makna dan konteks pembelajaran yang disampaikan, sehingga proses pembelajaran nantinya seperti di ruang hampa, hanya ilusi atau sekedar fatamorgana. Berdialektika dengan realitas kehidupan maka fungsi pragmatis akan bersinergi dengan fungsi idealis, sehingga akan berguna dalam pemberian makna pembelajaran bagi masa kekinian maupun masa yang akan datang.

(6). Bagi pemerintah, penting untuk mengkaji ulang kurikulum perkuliahan institusi penghasil guru, dengan menekankan pada kompetensi guru yang berkualitas dan mumpuni.

(7). Pemerintah juga diharapkan dapat melaksanakan secara efektif program penempatan guru di wilayah-wilayah pelosok Indonesia yang masih banyak membutuhkan guru dengan memberikan pendapatan yang sesuai.

(8). Pemerintah terus bersungguh-sungguh merealisasikan anggaran pendidikan yang 20

% (dari APBN dan APBD) sebagai syarat upaya meningkatkan kualifikasi dan

profesionalitas guru serta dunia pendidikan secara umum.

Syarat Guru yang Baik dan Berhasil

Tidak sembarang orang dapat melaksanakan tugas profesional sebagai seorang guru. Untuk menjadi guru yang baik haruslah memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh pemerintah ( Ngalim Purwanto,1985:170-175 ). Syarat utama untuk menjadi seorang guru, selain berijazah dan syarat-syarat mengenai kesehatan jasmani dan rohani, ialah mempunyai sifat-sifat yang perlu untuk dapat memberikan pendidikan dan pembelajaran. Selanjutnya, dari syarat-syarat tersebut dapat dijabarkan secara lebih rinci, yaitu sebagai berikut : (1) Guru harus berijazah (2) Guru harus sehat Rohani dan Jasmani (3). Guru harus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berkelakuan baik (4). Guru haruslah orang yang bertanggung jawab (5). Guru di Indonesia harus berjiwa nasional

Syarat-syarat di atas adalah syarat umum yang berhubungan dengan jabatan sebagai guru. Selain itu ada syarat lain yang sangat erat hubungannya dengan tugas guru disekolah. Dr. H. Hamzah.B.Uno (2007:30) menjelaskan bahwa syarat-syarat menjadi guru yang baik itu (1) harus adil dan dapat dipercaya (2) sabar, rela berkorban, dan menyayangi peserta didiknya (3) memiliki kewibawaan dan tanggung jawab akademis, (4) harus memiliki wawasan pengetahuan yang luas dan menguasai benar mata pelajaran yang dibinanya, (5) harus selalu instropeksi diri dan siap menerima kritik dari siapa pun, (6) harus berupaya meningkatkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Keberhasilan seorang guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai sebagai seorang pengajar, pendidik, pembimbing sangat bergantung kepada diri pribadi masing-masing guru dalam lingkungan tempat ia bertugas. Tugas dan beban guru memang berat. Berbagai tudingan miring biasa terlontarkan. Semua akan terasa indah dan terjawab bila diimbangi dengan profesionalitas, bukan keteledoran. Bila tidak, silakan tutup telinga atas tuduhan bahwa guru hanya antusias saat mengurus kesejahteraan dan malas untuk perubahan yang lebih baik. Selamat ulang Tahun Guruku !. (Drs. Zaenal Muttaqin, M.Pd. adalah Guru/ Kepala SMP Negeri 1 Bantarkalong )***