JASA guru dalam ikut mencerdaskan rakyat Indonesia sudah sepantasnya dihargai. Pemerintah penuh perhatian dengan menaikkan gaji guru PNS dalam rangka mensejahterakan kehidupan para guru. Tapi, masalahnya justru sekarang terjadi ketimpangan kehidupan diantara para guru. Pemeriantah mestinya harus memperhatikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Betapa tidak! Bayangkan, gaji guru PNS sekarang rata – rata mencapai 2 juta-an, sementara guru honorer (sukwan) gajinya ala kadarnya.Bahkan tidak sesuai dengan UMR di daerah masing-masing.

Selama ini, banyak guru sukwan yang hanya mendapat gaji sekitar 100 -300 ribu rupiah, termasuk di wilayah Timur. Padahal antara guru PNS dan guru sukwan sama – sama bekerja dalam panjang waktu yang sama. Artinya, pengabdian guru sukwan tak kalah besar dan bertanggung jawab mendidik para peserta didik dalam KBM, meski menerima honor yang minim.

”Bagi saya, profesi sebagai guru merupakan panggilan jiwa, yang harus ditekuni dengan sepenuh hati,”ungkap Risman Nurahman, guru sukwan di SDN Bojongsari di lingkungan UPTD Pendidikan Kawalu Kota Tasikmalaya.

Karena pekerjaannya itu merupakan panggilan jiwa, maka tak mengherankan bila Risman tampak enjoy menikmatinya sebagai guru sukwan yang ditekuni dengan sepenuh hati sejak tahun 2005. Dia tak pernah mengeluh dengan ’gaji’ honor yang diterimanya memang sangat kecil.

“Ya, harus bagaimana lagi?! Saya selalu bersyukur dan menerima apa adanya. Hal penting bagi saya, yakni bisa mengabdikan diri kepada negara melalui dunia pendidikan, terutama sebagai pendidik,”tutur guru kelas tiga yang juga mengajar di madrasah di kampung halamannya ini.

Walau sebenarnya, Risman dan para guru sukwan lain di seluruh Indonesia selalu berharap, bahwa suatu saat akan diangkat menjadi guru PNS dan menikmati gaji yang layak sesuai dengan pengabdiannya. “Semoga saja, keinginan dan harapan saya beserta rekan guru sukwan lainnya menjadi kenyataan dan mendapat perhatian dari pemerintah,”katanya.

Kalaupun keinginan dan harapan itu entah kapan akan terwujud, memang seharusnya pemerintah dapat mensejahterakan para ’tenaga pendidik’ guru sukwan, setidaknya memberikan tunjangan sesuai UMR di daerahnya masing – masing. Biar tidak terjadi adanya diskriminasi ! (REDI MULYADI/RATNA SARI DEWI)***