Oleh : Drs. Zaenal Muttaqin, M.Pd.

TAHUN Ajaran 2009/2010 sebentar lagi akan berakhir dan ditandai dengan datangnya Tahun Ajaran 2010/2011. Pada saat-saat seperti ini kesibukan para orang tua akan meningkat .Para orang tua bingung mencari dan memilihkan sekolah yang tepat untuk anak-anak mereka. Namun mencari sekolah berkualitas bukan pekerjaan mudah. Kita tidak dapat mengambil kesimpulan hanya berdasarkan data parsial. Gedung megah tidaklah menjadi ukuran bahwa sekolah tersebut baik. Sebaliknya, sekolah pinggiran yang jauh dari pusat kota tidak dapat juga dikatakan sebagai sekolah yang kurang baik..
Sebagai orangtua, tentu kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak. kita. Kesalahan awal dalam menentukan sekolah dapat menyebabkan persoalan baru bagi para orang tua. Itulah sebabnya berbagai pertanyaan akan muncul di benak mereka tidak lepas dari hal seputar sekolah. Misalnya apa bentuk sekolah yang baik dan ideal ? Apakah sekolah yang mahal menjamin kualitas yang diberikan? Di mana lokasi yang cocok untuk anak-anak mereka? Dan sejumlah pertanyaan lainnya. Pada umumnya, para orang tua tentunya berharap sekolah yang dipilih akan mampu menjadi tempat mengembangkan pengetahuan,kemampuan dan sikap mental anak secara optimal.
Dalam memilih dan menentukan sekolah yang tepat bagi anak bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah.. Karena yang dinamakan sekolah ’baik’ ideal tidak hanya mengembangkan aspek intelektualitas saja, yang menjadi perhatian dan prioritas utama, tetapi juga memberi penguatan nilai-nilai terhadap nilai-nilai kepribadian.
Aspek kemanusiaan lainnya ikut dikembangkan seperti emosionalitas, sosialitas, religiositas, spiritualitas, adversitas, dan nilai-nilai (values) yang merupakan panduan moral dan dasar berperilaku macam pola pikir, disiplin, tanggung jawab, kasih sayang, keadilan, kesederhanaan, aturan, kemandirian, kebersamaan, keberpihakan pada yang lemah, dan ungkapan syukur juga mendapat tempat dan perhatian yang serius.
Indikator sekolah yang baik adalah sekolah yang menempatkan proses pendidikannya sungguh menjadi alat pembebasan, media pencerahan dan pemberdayaan diri. Pendidikan sungguh dimaknai sebagai upaya untuk membantu peserta didik menemukan hakikat kemanusiaannya. Ini penting, di tengah perubahan zaman dengan segala dampaknya saat ini, membelajarkan anak agar menjadi pribadi-pribadi yang tahan uji,
bermoral,berintegritas, dan berkarakter adalah satu keniscayaan.
Bila merujuk kepada pemikiran Edward Sallis yang dikutip Sudarwan Danim (2006), beliau mengidentifikasi 13 ciri sekolah berkualitas yaitu :sekolah berfokus pada pelanggan; baik pelanggan internal maupun eksternal;.sekolah berfokus pada upaya untuk mencegah masalah yang muncul ; sekolah memiliki investasi pada sumber daya manusianya;.sekolah memiliki strategi untuk mencapai kualitas, baik di tingkat pimpinan, tenaga akademik, maupun tenaga administratif.; sekolah mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada masa berikutnya;sekolah memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas, baik untuk jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang ; sekolah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya;.sekolah mendorong orang dipandang memiliki kreativitas, mampu menciptakan kualitas dan merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas; sekolah memperjelas peran dan tanggung jawab setiap orang, termasuk kejelasan arah kerja secara vertikal dan horizontal.;sekolah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas;. sekolah memandang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut;.sekolah memandang kualitas sebagai bagian integral dari budaya kerja.;sekolah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan.
Ha-hal berikut ini ini setidaknya dapat dijadikan solusi acuan bagi para orang tua di dalam memilih dan menentukan pilihan sekolah untuk anak-anak mereka.
Melibatkan Anak
Para orang tua hendaknya sadar diri dan memahami bahwa yang nanti akan bersekolah adalah anak, bukan mereka. Sudah sepatutnya dalam hal ini anak dilibatkan dalam memilih dan menentukan sekolah sesuai pilihan hatinya. Hal ini merupakan langkah penting. Para orang tua janganlah sekali-kali menganggap remeh kemampuan sang anak. Biarlah anak diberi kesempatan mengembangkan kemampuan dan kematangan dirinya sendiri.. Kewajiban para orang tua merangsang kemampuan anaknya. Kondisikan agar proses mencari sekolah tidak menjadi beban berat bagi si anak melainkan menjadi proses belajar yang menyenangkan.
Bagaimana jika ternyata terjadi pilihan anak jatuh pada sekolah yang menurut orang tua kurang sesuai? Di sinilah peran dan kebijakan orang tua diperlukan. Orang tua jangan bertidak otoriter, sebab hal itu hanya akan mengecilkan bahkan membunuh kemauan dan kreatiftias anak.
Apabila orang tua telah memberikan alternatif pilihan sekolah mana yang akan dimasuki anak nanti, katakan kepada si anak bahwa sekolah yang akan dimasuki adalah murni pilihannya..Orang tua hanya membimbing dan mengarahkan. Dengan demikian anak akan merasa bangga dan respek kepada orang tua karena diberi kesempatan melakukan hal yang penting di dalam hidupnya .Tidak menutup kemungkinan, anak akan merasa lebih bertanggung jawab di dalam mengikuti kegiatan sekolah karena merasa sekolah yang dimasukinya adalah pilihannya sendiri sesuai dengan minat dan kata hatinya..
Cermati Visi dan Misi.
Bahwa mengetahui tentang pentingnya aspek visi dan misi pendidikan yang disandang suatu sekolah merupakan satu keharusan . Sekolah yang memiliki kualitas baik tentu saja memiliki visi dan misi yang jelas, terukur dan realistis. Untuk dapat mengetahui visi-misi sekolah yang diinginkan, dapat dilihat di buku profil, brosur, papan nama atau media, blog, website maupun publikasi lainnya yang digunakan oleh sekolah tersebut.
Visi dan Misi sekolah merupakan suatu hal penting yang tidak boleh diabaikan begitu saja, karena dengan visi dan misi sekolah tersebut akan diperoleh kejelasan ke arah mana sekolah itu akan dibawa. Dari visi dan misi yang dipaparkan dapat terlihat bagaimana orientasi tujuan dan profil output atau outcome yang akan dihasilkan. Artinya, kondisi apa dan bagaimana yang menjadi cita-cita dan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah tersebut, sehingga dengan cita-cita dan tujuan yang dirumuskan dapat ditentukan apa skala prioitas yang akan dilakukan.
Visi sekolah mengandung pengertian segala sesuatu yang ada dan terpikir dalam sebuah sekolah, berupa gagasan-gagasan tentang rencana, harapan, serta keinginan yang akan dicapai pada masa yang akan datang. Sementara misi sekolah menyangkut segala sesuatu yang dilakukan oleh sekolah, untuk mencapai visi sekolah, dalam rangka memenuhi keinginan masyarakat sebagai pihak pengguna sekolah maupun pemerintah sebagai pihak yang berkepentingan dan bertanggung jawab terhadap sekolah. Misi sekolah ini merupakan penjabaran dan upaya menjalankan apa yang telah direncanakan dalam suatu visi sekolah, serta bagaimana pelaksanaannya agar dapat mencapai tujuan tersebut.
Sekolah yang baik memiliki visi dan misi yang jelas, dan seluruh program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah tersebut selalu diarahkan untuk tercapainya Visi dan Misi yang telah ditetapkan. Tanpa adanya Visi dan Misi yang jelas maka orang tua murid tidak dapat memahami ke arah pendidikan seperti apa putra/putrinya akan di bawa. Visi dan Misi dapat dikatakan sebagai komitmen suatu lembaga pendidikan untuk memberikan kualitas pendidikan yang baik kepada masyarakat.
Pernyataan visi dan misi ini dapat dipotret dan dilihat, diidentifikasi dari beberapa aspek, antara lain aspek keagamaan, akademis, mental, perilaku, kecakapan hidup, kemandirian dan kewirausahaan. Pada umumnya saat ini para orang tua masih memandang aspek akademis menjadi pertimbangan utama dan pertama dalam memilih sekolah dengan mengabaikan aspek yang lainnya. Maka, tidak heran jika banyak orang tua yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan sekolah dengan prestasi akademik tinggi.
Betapa banyak orang tua yang masih terjebak euforia seperti ini. Orang tua seharusnya tidak lagi terjebak pada istilah-istilah “sekolah favourit” ,” sekolah unggulan”,” sekolah plus” dan sebagainya. Padahal yang dikembangkan hanya pada aspek kognitif . Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menggali, mengembangkan dan mengoptimalkan seluruh potensi peserta didiknya.yaitu meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Kualitas dan Model Pembelajaran
Sesuai tuntutan Kurikulum yang berlaku saat ini sedikitnya sebuah sekolah menerapkan lima pendekatan pembelajaran untuk memberikan kualitas pembelajaran yang baik kepada siswa, antara lain:
(1) Pendekatan kompetensi, yaitu suatu pendekatan yang menunjuk kepada kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pembelajaran dan latihan. (2) Pendekatan keterampilan proses, yaitu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, aktivitas dan kreativitas siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. (3) Pendekatan lingkungan, yaitu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan siswa melalui pendayagunaan lingkungan sebagai program belajar, atau dengan kata lain kegiatan pembelajaran akan menarik perhatian siswa jika apa yang dipelajari diangkat dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan berfaedah bagi lingkungannya. (4) Pendekatan kontekstual, yaitu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan siswa secara nyata, sehingga siswa mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, siswa akan merasakan pentingnya belajar dan mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya. (5) Pendekatan tematik, yaitu pendekatan pembelajaran untuk mengadakan hubungan yang erat dan serasi antara berbagai aspek yang mempengaruhi siswa dalam proses belajar. Pentingnya pendekatan tematik pada pembelajaran yang mempunyai korelasi tinggi ialah kenyataan bahwa dunia nyata itu menunjukkan adanya keterpaduan dan bahwa siswa ternyata lebih baik bila belajar menghubung-hubungkan berbagai fakta yang ada.
Aspek Religiusitas
Pendidikan agama berfungsi menanamkan keimanan pada diri anak sebagai bekal kehidupannya di masa depan. Keimanan adalah modal utama untuk mengembangkan apa yang disebut Dahner Zhohar sebagai Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient), yang juga disebut Howard Gardner sebagai salah satu dari ragam kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Kecerdasan spiritual tidak boleh dianggap remeh dalam kehidupan. Ia berfungsi sebagai semacam kecakapan hidup untuk membangun kehidupan berkualitas.
Pendidikan Agama harus menjadi perhatian dalam sistem pendidikan nasional, khususnya di sekolah-sekolah umum karena saat ini mata pelajaran agama hanya menyediakan porsi 2 jam per minggu. . Untuk sekolah-sekolah/ madrasah yang berbasisi keagamaan tak masalah, karena pelajaran agama mendapat porsi yang cukup banyak,.
Pendidikan budaya yang mengacu pada nilai-nilai moral yang baik harus menjadi perhatian juga. Nilai-nilai budaya yang punya nilai moral yang tinggi juga harus menjadi perhatian, Pada era globalisasi sekarang ini, banyak kasus yang menimpa generasi penerus kita termasuk dalam hal ini para pelajar, mulai dari kasus tawuran, narkotika, pergaulan bebas dan perbuatan menyimpang lainnya. .Peran pendidikan agama menjadi sangat signifikan terutama dalam membentuk kharakter dan perilaku siswa. Karena itu, tak ada lain harus dibentengi dengan pendidikan agama yang baik sehingga bisa membedakan mana yang baik dan mana yang harus dihindari.
Pendidikan moral tertinggi terletak di dalam doktrin-doktrin agama yang diyakini seseorang. Melalui pendidikan agama yang cukup, diharapkan para peserta didik akan muncul kesadaran dan pemahaman yang benar mengenai tugas, fungsi ,peran dan tanggung jawabnya sebagai hamba Tuhan.,Sebagai implementasinya, anak mampu menghargai orang lain dengan segala perbedaan serta mampu memilah dan memilih kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat.
Porsi pendidikan agama yang diterapkan oleh suatu sekolah hendaknuya menjadi bahan pertimbangan penting orang tua dan anak dalam memilih sekolah. Barangkali, jika kita ingin mendapatkan pendidikan agama yang lebih di sekolah negeri, nampaknya sulit diwujudkan. Pasalnya, sesuai aturan yang berlaku, sekolah-sekolah negeri hanya menerapkan 2 (dua) jam pelajaran agama dalam sepekan, kecuali inisiatif pihak sekolah untuk mengadakan jam tambahan.
Mungkin dari sini, sekolah-sekolah swasta yang berbasiskan agama dapat menjadi solusinya. Sekolah ini jelas-jelas memberikan porsi lebih banyak untuk pendidikan agama, bahkan sudah dipadukan dengan mata pelajaran lain, sehingga terdapat internalisasi nilai-nilai agama di setiap bahan ajar. Apalagi di jenjang pendidikan dasar, ibaratnya sebagai momentum peletakan pondasi bangunan kepribadian dan pengoptimalan seluruh potensi siswa. Maka, agama menjadi komponen paling penting dalam membentuk dan membangun karakter siswa.
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum merupakan serangkaian tujuan pendidikan yang menggambarkan berbagai kemampuan, nilai dan sikap yang harus dikuasai dan dimiliki oleh siswa dari suatu pendidikan. Kurikulum juga berarti sebagai sejumlah mata pelajaran di sekolah yang harus ditempuh siswa untuk mencapai suatu ijasah atau tingkat, serta merupakan cara-cara dan usaha-usaha yang digunakan untuk mencapai tujuan sekolah. Di sekolah yang baik, siswa selalu diberitahu tentang apa yang harus dipelajari, dan mengapa hal yang dipelajari tersebut dianggap penting. Di samping itu, sekolah juga menyediakan garis besar yang menggambarkan kurikulum untuk orangtua. Orangtua diberitahu tentang prioritas belajar untuk siswa, untuk setiap mata pelajaran. Bahan pengajaran, media pengajaran, dan kegiatan belajar disesuaikan dengan kemampuan siswa serta perlu dikembangkan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dewasa ini beberapa sekolah juga menambah dengan kurikulum pembentukan karakter, dengan kurikulum ini diharapkan siswa tidak hanya memiliki pengetahuan atau wawasan yang luas saja, namun mereka juga memiliki karakter yang baik.
Kurikulum merupakan jantung pendidikan.. Di dalamnya berisi perencanaan pembelajaran yang menyangkut semua kegiatan yang dilakukan dan dialami peserta didik dalam perkembangan, baik formal maupun informal guna mencapai tujuan pendidikan. Walaupun penerapan kurikulum ini sudah diatur dan diseragamkan dari pusat, tetapi pihak penyelenggara pendidikan dapat melakukan modifikasi dan inovasi disesuaikan dengan kondisi sekolah, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sangat memberikan keleluasaan kepada pihak sekolah untuk berkreasi dan berinovasi selama masih mengacu kepada standar kompetensi yang ditentukan.. Sangat dimungkinkan akan terjadi kompetisi di antara sekolah-sekolah, tentang bagaimana menampilkan profil sekolah dan keunggulan-keunggulannya dalam hal muatan materi pembelajaran dan kegiatan sekolah. Oleh karena itu, orang tua dan calon siswa harus benar-benar jeli dan teliti dalam memilih sekolah terutama pertimbangan dari sisi kurikulum yang diterapkan sekolah tersebut. Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan sekolah juga perlu dicermati, apakah dimungkinkan dapat mengoptimalkan bakat dan potensi peserta didik.
Tenaga Pendidik dan Kependidikan
Keberhasilan dari proses dan hasil output pendidikan tidak dapat dilepaskan dari andil guru. Boleh dikatakan guru sebagai ujung tombak pendidikan untuk mencetak dan mengkader generasi penerus yang didambakan. Apalah artinya kurikulum yang ideal jika tidak didukung oleh pelaksananya, yaitu sumber daya manusia yang cakap. Faktor sumber daya manusia menjadi faktor paling penting karena merekalah yang akan mendidik dan mengajar putra-putri kita. Jika tenaga edukatif yang profesional telah digunakan pada sekolah tersebut, orang tua tentu tidak akan meragukan kualitas sekolah tersebut
Keterkaitannya dengan kualitas, sekolah yang baik tentu memperhatikan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, hendaknya orang tua siswa menanyakan faktor ini kepada sekolah. Orang tua mempunyai hak bertanya karena akan menitipkan putra-putrinya dalam waktu yang cukup lama. Untuk itu, orang tua perlu memperhatikan kualitas kepala sekolah, kualitas pendidik dan tenaga kependidikan lainnya.. Cobalah mencari informasi tentang kebijakan-kebijakan kepala sekolah yang pernah diterapkan dalam mengambil kebijakan. Demikian halnya tenaga pengajar atau guru. Carilah informasi kualifikasi tenaga edukatif di sekolah tersebut. Berapa banyak guru yang berkualifikasi S1, S2, atau bahkan doktor. Selain itu, adakah guru yang mengajar tidak sesuai disiplin ilmunya?
Prof. Dr. T.Raka Joni (1980) mengemukakan adanya tiga dimensi umum yang menjadi kompetensi tenaga kependidikan, antara lain:
(1) Kompetensi personal atau pribadi, maksudnya seorang guru harus memiliki kepribadian yang mantap yang patut diteladani. Dengan demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
(2) kompetensi profesional, maksudnya seorang guru harus memiliki pengetahuan yang luas, mendalam dari bidang studi yang diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya.
(3) Kompetensi kemasyarakatan, artinya seorang guru harus mampu berkomunikasi baik dengan siswa, sesama guru, maupun masyarakat luas. Mungkin secara sederhana, ketika kita mengamati profil guru sebuah sekolah, bisa dilihat dari riwayat pendidikan, pengalaman mengajar, prestasi, penampilan, sikap dan gaya mengajar apabila dimungkinkan.
Sarana dan Prasarana Sekolah.
Komponen pendidikan yang tidak kalah pentingnya adalah sarana dan prasarana yang mendukung keberlangsungan proses pembelajaran. Sarana adalah segala sesuatu yang memudahkan guru untuk menyampaikan bahan pembelajaran. Adapun prasarana adalah semua hal yang dapat menunjang berlangsungnya proses pembelajaran. Mulai dari bangunan fisik, ruang kelas, taman, perpustakaan, laboratorium, sarana olah raga dan kesenian, arena bermain, kantin, perlengkapan kelas, sampai dengan alat peraga edukasi yang dimiliki. Seiring dengan kemajuan bidang informasi dan teknologi, nampaknya bukan hal yang baru sebuah sekolah memiliki fasilitas akses jaringan internet dan website sendiri, di mana setiap stake holders dapat berinteraksi dan berkomunikasi di dunia maya.
Hal seperti ini, akan sangat membantu para orang tua untuk memantau perkembangan putra-putrinya secara cepat tanpa harus secara fisik datang ke sekolah. Dengan didukung sarana dan prasarana yang baik, diharapkan semua peserta didik dapat belajar secara enjoy, nyaman, dan betah. Sekolah diibaratkan sebagai rumah kedua bagi anak-anak, sehingga sekolah yang baik mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan siswa. Hal yang perlu diperhatikan juga mengenai rasio jumlah siswa dengan luas ruangan kelas serta fasilitas penunjsng lsinnys. Ibarat sebuah kendaraan, kita akan mencapai ke tujuan dengan selamat jika kendaraan yang digunakan juga baik. Kendaraan tidak harus baru, tetapi harus terawat. Demikian halnya sebuah sekolah. Tidak ada sekolah baik, tetapi sarana-prasarananya tidak memadai. Sarana dan prasarana adalah alat untuk mencapai tujuan. Meskipun sang sopir pandai dalam mengemudikan kendaraan, penumpang juga akan merasa was-was jika kendaraan yang digunakan rusak. Oleh karena itu, carilah sekolah yang mempunyai sarana dan prasarananya memadai.
Lokasi Sekolah dan Lingkungan.
Lokasi yang dimaksud dapat dipandang dari jarak sekolah ke rumah, lingkungan sekitar dan sarana transportasinya. Dapat dibayangkan seorang anak harus bangun pagi-pagi sekali karena letak sekolahnya jauh. Bangun pagi hanya sekedar untuk mengejar waktu sekolah. Tentu ia pulang dalam keadaan lelah karena jarak yang ditempuhnya memakan waktu yang lama. Belum lagi jika terjadi kemacetan lalu lintas, bisa dimungkinkan sering terlambat pulang maupun masuk sekolahnya.
Kapan ia bisa belajar di rumah dengan nyaman? Bagaimana ia bisa mengembangkan interaksi dengan anggota keluarga lain di rumahnya? Maka, faktor lokasi dan lingkungan ini hendaknya diperhatikan oleh orang tua dan anak itu sendiri dalam menentukan sekolah pilihannya. Perlu dipikirkan juga mengenai sekolah yang berlokasi di pusat perkotaan atau keramaian dan yang berada di pinggiran kota atau lebih dekat dengan suasana alam, semua memiliki kelebihan dan kekurangan.
Biaya pendidikan.
Bagi sebagian kalangan, faktor biaya ini menjadi pertimbangan paling utama dalam memutuskan sekolah yang dipilih, terutama bagi masyarakat yang secara ekonomi kelas menengah ke bawah. Biaya pendidikan yang ditarik pihak sekolah secara umum sesuai hasil kesepakatan seluruh orang tua dan Komite Sekolah , baik yang bersifat rutin maupun incidental akan banyak berpengaruh kepada daya pandang orang tua. Sekolah-sekolah yang dianggap favourit, unggul maupun plus biasanya juga akan memasang biaya pendidikan yang tidak murah.
Mengapa terjadi seperti itu?Hal ini berkaitan dengan fasilitas pembelajaran dan program-program unggulan yang ditawarkan. Namun perlu diingat bahwa, tingginya biaya pendidikan yang diterapkan pihak sekolah hendaknya diikuti juga dengan pelayanan pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, sebelum menentukan pilihan sekolah, orang tua diharapkan sudah mampu menakar,mengukur kemampuan secara ekonomi tentang biaya pendidikan yang harus dikeluarkan termasuk anggaran lain di luar program sekolah, seperti uang saku, transportasi, biaya pemondokan, perlengkapan seragam dan alat-alat sekolah dan lain-lain.
Aspek 7 K.
Kondisi sekolah yang aman, nyaman, bersih,teduh, tenang, tertib dan lingkungan yang sejuk segar tentu saja akan mendukung suasana proses pembelajaran. Berbeda dengan suasana sekolah yang terkesan kumuh, gersang, gaduh, penempatan perabot sekolah yang semrawut, dan tidak ada kedisiplinan yang diterapkan, maka proses belajar mengajar akan banyak terganggu dan kurang optimal hasilnya. Kata kuncinya, siswa di sekolah harus merasa senang dan betah seperti halnya ketika berada di rumahnya sendiri.
Prestasi.Sekolah
Salah satu kriteria yang tidak boleh ditinggalkan dalam memilih sekolah yang ideal adalah prestasi dan profil output-nya. Sekolah yang baik, selain unggul di dalam proses, juga unggul pada hasilnya. Keunggulan di dalam bidang akademik maupun nonakademik., baik siswa guru maupun institusinya..Semakin sarat dengan prestasi menandakan bahwa sekolah tersebut berhasil di dalam pengelolaan. Meraih prestasi bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi dituntut keuletan, kesabaran, kerja keras, dan tentu saja kekompakan dari seluruh unsure yang terkait di sekolah tersebut.
Keberhasilan Alumni.
Upaya peningkatan mutu tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada sekolah. Memang, sekolah adalah ujung tombak dan pemilik kuasa terbesar dalam peningkatan mutu ini. Karenanya, diperlukan kemandirian, kemauan kuat, dan kerja keras bagi sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikannya. Tetapi, kalau kita mengacu pada konsep “Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah” maka diperlukan sinergi dan kerjasama antara beberapa komponen (stakeholders) yang melingkupi sekolah.
Alumni sebagai masyarakat yang memiliki hubungan khusus dan ikatan batin yang istimewa terhadap sekolah, tentu memiliki peranan dan tanggungjawab yang khas dan istimewa pula. Karena, alumni telah merasakan dan mengalami sekian tahun menjadi keluarga sekolah, menikmati dan memperoleh layanan jasa, merasakan visi dan misi apa yang dialami dalam sekian tahun tertentu, dan merasakan kualitas macam apa yang dirasakan sehingga dapat menjadi seperti ini. Apapun yang didapat dari sekolah, tentunya memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi kehidupannya di masyarakat.
Sebagai masyarakat istimewa sesungguhnya banyak kontribusi yang dapat diberikan alumni kepada almamaternya. Kontribusi tidak hanya bersifat finansial atau materi saja, tetapi dalam konteks peningkatan mutu diperlukan sumbang saran dan pemikiran tentang berbagai macam hal yang berorientasi pada peningkatan mutu sekolah. Di antara yang dapat dilakukan adalah sumbangan pemikiran untuk mencari konsep dan cara kerja meningkatkan mutu, memberikan informasi, menghubungkan sekolah dengan pihak-pihak lain, promosi sekolah, memberikan bea siswa, dan lain sebagainya. Terpenting adalah bagaimana bantuan dan partisipasi yang diberikan tidak bersifat insidental, namun berkelanjutan.
Sebagai bagian masyarakat, hubungan antara alumni dan sekolah tentunya lebih bersifat kultural dan emosional. Hubungan yang dibangun antara sekolah dan alumni pun bersifat lentur dan tidak mengikat. Dengan perkataan lain, relasi yang terbangun adalah relasi setara yang bersendikan mutualisme dan kemanfaatan.
Keberhasilan alumni dapat diukur dari lulusan sekolah dapat diterima di jenjang sekolah yang lebih tinggi .Bila terjun di masyarakat memiliki life skill yang cukup untuk mampu eksis di tengah masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas, penulis berharap semoga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para orang tua dan anak di tengah maraknya euforia kebingungan mencari sekolah yang baik dan bermutu dan tentunya yang cocok dengan selera anak dan orang tua.
Drs. Zaenal Muttaqin, M.Pd.
Penulis adalah Guru/Kepala SMP Negeri 1 Bantarkalong
Jl. Pemuda 2 Ds Hegarwangi Kec.Bantarkalong
Kabupaten Tasikmalaya