HIDUP sebagai pelukis terkenal, yang tinggal di kota kecil Tasikmalaya sambil menanggung beban keluarga, bukanlah sebuah keputusan yang main-main. Walau bagaimana pun, cobaan dan tantangan yang seringkali hadir, tentu saja hal-hal yang dapat menggoyahkan kesetiaan pada dunia seni lukis. Keputusan untuk tetap bertahan adalah keberanian untuk bersikap setia. Demikianlah ”sang pelukis” Iwan Koeswana yang kini masih tetap produktif meski lingkungan Kota Tasik sering ’memojokkan’ jebolan seni rupa ASRI Yogyakarta dan sebi lukis IKJ-LPKJ ini.

Dalam setiap kesempatan bertemu dengan penulis, Kang Iwan panggilan akrabnya, selalu mengupas ihwal seni terutama seni lukis yang digelutinya selama ini. Seni terkadang menjadi rancu artinya. Seni adalah sebuah keindahan. Ketika seni dibingkai dalam bentuk pementasan atau lukisan, seringkali seni menjadi ekslusif. Lihat saha pameran lukisan yang ada di galeri, hotel berbintang lima, kafe atau gedung kesenian.

”Namun, hanya sebagian orang yang tahu dan menikmatinya. Padahal, seni itu untuk semua orang.Karena itulah, saya selalu berupaya mendekatkan dunia seni dengan masyarakat, dengan bahasa kerennya memasyarakatkan seni,”ungkapnya.

Kang Iwan bukan sok idealis, tetapi ia justru realistis. Betapa tidak! Beberapa kali, ia menggelar pameran di galerinya yang masuk gang Jl.Cipedes yang berada di lingkungan masyarakat kelas bawah, juga pernah melukis background tiga buah boks telepon umum yang ada di warungnya di kawasan Simpang Lima, dengan aneka warga dan ditempel wajah patung.”Maksudnya, agar semua orang bisa menikmati seni, termasuk dari masyarakat kalangan bawah,”tuturnya.

Bagi dirinya, apa saja bisa dijadikan sebagai media ekspresi untuk—setidaknya—memperkenalkan dunia seni itu sendiri.Karena bagi seniman yang pernah mendapat beasiswa untuk belajar seni lukis di Belanda ini, bahwa seni adalah keindahan. Keindahan milik siapa saja yang memiliki emosi untuk menikmatinya. Manakala keindahan (dalam hal ini seni), kemudian berbaur dengan kepentingan, maka seni pun dieksploitasi habis-habisan. Kemasan yang indah dan menarik berubah menjadi menakutkan karena eksklusif.Lihat saja pemeran seni yang dibuka oleh pejabat atau selebriti dan diselenggarakan di tempat glamour, digedung menjulang tinggi, hotel berbintang lima, kafe atau galeri, yang hanya bisa dikunjungi oleh orang yang berkocek tebal saja.

“Jadi, jangan salahkan masyarakat bila kemudian seni tidak atau belum mendapat apresiasi yang wajar. Sebab, dunia itu belum sampai kepada mereka. Karena mereka bary taraf bekerja untuk memenuhi kebutuhan sandan dan pangan,”tuturnya.

Kemudian, seni pun berada di menara gading, sehingga sulit dilihat atau dinikmati dan apaladi dimiliki.Pada akhirnya, seni hanya menjadi milik para borjuis.Untuk memperkenalkan dan mendekatkan seni kepada masyarakat, apa yang dilakukan Iwan Koeswana bukan tanpa risiko, apalagi di Kota Tasikmalaya yang selama ini hanya menjadi kota transit. Namun dia mengaku bersyukur, karena Ida sang istri tercinta yang dinikahi tahun 1986, tidak henti-hentinya mem-back up dengan semangat. “Kalau tidak, mungkin saya sudah berhenti melukis dan bekerja,”katanya.

Secara realistis ia mengatakan, bahwa seorang seniman lukis, bisa hidup dari kreativitasnya.Itu hal yang wajar-wajar saja.Kalau sudah begitu keadaannya, karya yang akan dihasilkan, kreativitas yang dituangkan, maka harus memiliki selling point (nilai jual). Pada akhirnya, mungkin menjadi robot, menjadi mesin pencetak uang.Seni akan berada di pinggir.

Padahal, ia sudah berkalikali pameran sejak tahun 1982, mulai dari kampus IKJ-LPKJ, pameran keliling antara lain di Jan Van Ejeck Akademisi Maastricht Tropenmuseum Amsterdam (Belanda), Jerman, Thailand dan beberapa kota besar di Indonesia.Dengan pengalaman seperti itu, maka bisa saja ia hijrah ke Jakarta atau Bali untuk menjual karya seninya.

”Kalau saja hijrah ke Jakarta atau Pulau Bali, terutama di tempat yang mahal, tentu saya membuat karya yang bisa laku untuk menutup biaya hidup,”kilah pria kelahiran 14 Oktober 1960 ini.

Walaupun berkali-kali pemeran di luar negeri, pameran Iwan Koeswana di dalam negeri sendiri, ternyata belum begitu banyak mendapat respon. Namun demikian,direspon atau tidak,ia tetap jalan terus.

Satu hal lagi keinginan yang ingin dicapai, yakni Iwan Koeswana ingin memamerkan karyanya yang seharga Rp.1 miliar.Karya lukis ini menjadi amat mahal, karena ia melukis dirinya sendiri dengan berbagai ekspresi. Dalam lukisan itu, Kang Iwan hanya ingin memprotes keadaan Indonesia yang carut marut.Karya lukisnya itu ia kerjakan menggunakan medium batu, kacang hijau, beras, peluru dan bunga.(REDI MULYADI)***