Kab.Tasikmalaya, LINTAS PENA

Pendidikan jurnalistik, tidak hanya bisa diterapkan pada jejang pendidikan tinggi saja, namun perlu diterapkan sejak di bangku sekolah lanjutan pertama (SMP). Karena saat ini minat siswa SMP hingga SMA/SMK terhadap jurnalistik dan tulis menulis masih sangat kurang, termasuk para staf pengajar (guru).

” Padahal kegiatan yang masuk kategori ekstrakurikuler itu sangat penting bagi siswa, karena manfaatnya akan menambah ilmu pengetahuan dan informasi bagi mereka. Pengetahuan ini juga akan sangat berguna bagi siswa, ketika mereka telah lulus dari sekolah dan berniat menjadi seorang jurnalis. ”ungkap Budi Purnomo, SP.d,Kons , staf pengajar di SMPN 1 Singaparna.

Karena itu, Budi Purnomo mengaku setuju bila diadakan pendidikan dan pelatihan (diklat) ‘jurnalistik’ kewartawanan bagi pelajar, mulai tingkat SMP hingga SMA. Sedangkan penyelenggaranya, tentu saja pihak sekolah bekerjasama dengan media atau insan pers yang peduli terhadap kemajuan dunia pendidikan.

”Saya sangat setuju bila ada media semacam media pendidikan LINTAS PENA mau bekerjasama dengan sekolah menggelar pelatihan jurnalistik kepada pelajar dan bahkan kepada guru.”ujar Ketua MGMP Tingkat SMP Kab.Tasikmalaya ini.

Budi menjelaskan, semakin dini kita memperkenalkan jurnalisme pada siswa, maka semakin baik pula tingkat pemahaman mereka tentang cara kerja media. Hal ini sangat penting, karena bagaimanapun dalam kehidupan di era sekarang ini, seseorang tidak bisa dilepaskan lagi dengan informasi yang diterimanya dari berbagai macam media, cetak maupun eletronik. “Pendidikan jurnalisme juga dapat mengasah kemampuan menulis siswa sejak dini, menambah pengetahuan mereka secara gamblang tentang segala sendi kehidupan , agar para siswa tidak bertindak pasif saat mendapat berbagai informasi. Selama ini siswa hanya sekadar membaca, melihat, mendengar, dan mengakses berbagai informasi yang didapat.”tuturnya.

Dengan pembekalan pelatihan jurnalistik, maka diharapkan para pelajar dapat menjadi fasilitator bagi teman-teman di sekolahnya dan berupaya membentuk kelompok yang aktif dan partisipatif dalam hal-hal yang berhubungan dengan jurnalistik, serta sekaligus
mengimplementsikan kegiatan jurnalistik pada organisasi sekolah misalnya, mading, majalah sekolah maupun lainnya.

”Bahkan, pelatihan jurnalistik pun cukup bermanfaat bagi rekan guru , bahkan bisa menambah kredit point terutama bagi yang mengikuti sertifikasi, bila rekan guru yang rajin menulis artikel di media cetak,”jelas Budi Purnomo mengakhiri obrolannya.(ENDANG SUTRISNO/REDI MULYADI)***