Tasikmalaya, LINTAS PENA

Lembaga pendidikan pondok pesantren (pontren) “Raudhatul Muta’alimin” Cilendek di Kec.Cibeureum Kota Tasikmalaya yang selama ini berusaha mempertahankan tradisi lama dan menerima terobosan-terobosan baru. Adapun sistem pengajaran yang diterapkan di sini tinggal pilih, yakni formal atau nonformal. Karena itu, Pesantren Cilendek berusaha mencetak santri unggul dan berstandar internasional.

“Namun yang jelas, selama ini pihak Yayasan Pondok Pesantren Cilendek menggratiskan kepada setiap santri yang mau menimba ilmu pendidikan umum atau bersekolah di MTs Negeri dan Madrasah Aliyah yang berada di lingkungan pesantren, terutama bagi santri atau siswa dari keluarga yang kurang mampu,”ungkap KH. Atte Mushodik Bahrum, pimpinan Pontren “Raudhatul Muta’alimin” Cilendek dan pengurus PBNU Pusat ini kepada LINTAS PENA.

Selama ini, pihak Pontren Cilendek senantiasa mengkritisi perubahan dan kemandirian. termasuk mengkritisi kebijakan pemerintah dalam kaitannya dengan dunia pendidikan.”Boleh ditulis, bahwa pendidikan yang dikelola oleh pemerintah dianggap gagal. Kenapa saya katakana demikian? Alasannya, karena lulusan sekolah yang dikelola pemerintah tidak jelas bisa apa dan outputnya seperti apa,”tegasnya.

Karena itu tak mengherankan, bila ada hal menarik yang diterapkan dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di lembaga pendidikan yang dikelola Pontren Cilendek yakni “mengajar dan diajar serta memimpin dan dipimpin” dalam arti yang luas. Bahkan, santri pun bisa mengajar kepada siswa sekolah umum (MTs dan MA) karena sudah dibekali ilmunya.

Dengan metodelogi tersebut, maka alumni Pontren Cilendek telah banyak yang sukses menjadi kader bangsa berakhlakul karimah dan mandiri seperti pengusaha, guru besar (Prof.Dr.Jejen Zenal Arifin guru besar UNJ Jakarta, Prof.Dr.H.Deding Jabasari guru besar Universitas Kebangsaan Malysya dan Universitas Darussalam dll), dosen, pengasuh pesantren besar dan lembaga pendidikan terkenal, pejabat termasuk Kadisdik Kota Tasikmalaya Drs.H.Endang Suherman MPd.

Bahkan, lulusan Madrasah Aliyah (MA) Cilendek banyak yang diterima di perguruan tinggi dan menerima beasiswa, misalnya untuk tahun 2010 tercatat 10 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarifhiayatullah Jakarta yang memperoleh beasiswa Bidik Prestasi.

KH.Atte Mushodik Bahrum menjelaskan, saat ini jumlah santri yang menimba ilmu di Pesantren Cilendek sebanyak 300 santri. Sedangkan jumlah siswa yang belajar di MTs Negeri dan MA tercatat sekitar 1.500 siswa, termasuk yang 300 santri tersebut. “Adapun santri yang juga bersekolah gratis di MTs maupun MA Cilendek umumnya siswa berprestasi 5 besar di sekolah asalnya.”katanya.

Sebenarnya, lanjut pengurus PBNU Pusat ini, masyarakat untuk memasukkan putra-putrinya ke Pontren Cilendek sekaligus bersekolah di lingkungan pesantren tersebut sangat tinggi, dan pasca penggembokan peminatnya membludak. Namun, karena keterbatasan sarana prasarana (terutama ruang belajar) yang dimiliki, maka ada istilah santri waiting list (daftar tunggu). “Saat ini saja tercatat sebanyak 250 santri atau siswa yang masuk waiting list,”jelasnya.

HAMPIR DUA ABAD

Lembaga pendidikan Pondok Pesantren Cilendek yang berdiri di atas areal seluas 2 hektar kini telah berusia hampir dua abad, karena didirikan pada tahun 1812 oleh KH.Abdullah Muhsin. Kemudian secara berturut-turut dilanjutkan oleh KH.Ahmad, KH. Muhammad Darmuji pelopor ahli Falaq, dan KH.Bahrum ayahanda KH.Atte Mushodik Bahrum sebagai generasi kelima.

Sebagaimana lembaga pendidikan pesantren, maka materi pelajaran yang diberikan kepada para santrinya merupakan kitab-kitab kuning antara lain: Jurumiyyah, Safimatun, Najah, Sulam taufiq hingga Fathul Wahab dan Tafsir Jalalain. “Namun metode pelajaran yang paling terkenal dari Pesantren Cilendek adalah ahli falaq, alat dan fiqh,” ungkap KH Atte Mushodik Bahrum, penulis buku Ilmu Shorof bagi pesantren-pesantren di Jawa Barat.

Seiring dengan perkembangan zaman, kini keberadaan pesantren kian dilirik berbagai pihak untuk memasyarakatkan program pembangunan, dan masuknya teknologi informasi serta sektor industry dalam rangka membangunan sumber daya manusia, memperluas lapangan kerja dan usaha.

Selain itu, lanjut KH Atte Mushodik Bahrum, ada semacam pelatihan industry berupa konveksi baik itu jahit menjahit, membordil, komputer, pertukangan dan adimistrasi disamping mengelola koperasi untuk kebutuhan para santri. Bahkan setiap hari Minggu, baik santri maupun siswa MTs dan MA menggelar berbagai kegiatan sesuai bakat masing-masing, misalnya olahraga, drum band, PKS, musik dan keterampilan lainnya.

“Hal ini sesuai dengan tujuan dari lembaga pendidikan Pontren Cilendek yang kami kelola, yakni merubah diri, umat dan bangsa. Karena itu, selain mempersiapkan santri yang siap kerja, Pesantren Cilendek berusaha mencetak santri sebagai kader ulama adan kader bangsa yang siap pakai, sekaligus berakhlakul karimah dan mandiri,”paparnya. (REDI MULYADI/H.EDDY PADMA)***