Kab.Tasikmalaya,LINTAS PENA

Desa Mekarjaya terletak di Kecamatan Padakembang, kini mulai berkembang bersama desa lain seiring kepindahan pusat ibukota baru Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya di Kota Singaparna yang jaraknya tidak begitu jauh. Dengan demikian, aparat Pemdes Mekarjaya berusaha meningkatkan berbagai sektor pembangnunan di desanya.

Desa ini memiliki luas pemukiman seluas 45.100 ha/m2, luas persawahan 229.753 ha/m2, prasarana umum lainnya seluas 110.147 ha/m2 dan beberapa luas wilayah lainnya sehingga jika dijumlahkan luasnya menjadi 385.350 ha/m2. “Keadaan topografi desa kami merupakan daerah dataran rendah yang cocok dijadikan lahan pertanian, seperti padi dan tanaman cabai. Selain pertanian, penduduk desa ini biasanya melakukan usaha perikanan.”ungkap Makin Mustofa, Kepala Desa Mekarjaya kepada LINTAS PENA.

Desa Mekarjaya merupakan desa yang cukup strategis, pembangunan infrastruktur di desa ini cukup baik dibandingkan dengan desa-desa lainnya, terbukti dengan mudahnya akses menuju kota dan keadaan jalan yang dekat dengan jalan besar. Hal ini menjadikan desa ini dianggap sebagai desa yang cukup berkembang di Kecamatan Padakembang.

Makin Mustofa ada;ah sosok Kepala Desa Mekarjaya yang bijaksana, pandai bergaul dan sangat bertanggung jawab, masyarakat Mekarjaya sangat menyukai kepemimpinannya, karena dia penuh perhatian terhadap warga desanya.

Berdasarkan hasil pemetaan sosial di Desa Mekarjaya, ternyata terdapat sejumlah potensi yang dimiliki desa dari warganya, baik sumberdaya manusianya maupun sumberdaya alamnya. Dalam upaya pengembangan masyarakat desa, kondisi potensi desa tersebut sebenarnya cukup memadai untuk mendukung banyak aktivitas masyarakat, meski ada pula yang perlu digali dan diperbaiki potensinya. Fasilitas sarana dan prasarana di Desa Mekarjaya, seperti prasarana jalan, listrik, dan telekomunikasi merupakan faktor yang sangat mendukung bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan desa.

“Dengan tersedianya media-media informasi seperti TV, Radio,Internet dan media massa maupun jaringan telekomunikasi memudahkan masyarakat mengakses secara cepat informasi pembangunan dan terbukanya kesempatan untuk terlibat dalam setiap aktivitas pengembangan masyarakat di wilayah desa kami.”kata Makin Mustofa.

Dia menjelaskan, bahwa kelembagaan yang tumbuh dan berkembang di Desa Mekarjaya, baik berasal dari inisiatif warga maupun kelembagan bentukan pemerintah merupakan wahana dalam menampung aspirasi warga dan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. Kelembagaan yang mempunyai kegiatan rutin mengadakan pertemuan warga masyarakat sepertti lembaga pengajian di tiap-tiap RT/RW, Posyandu, Kelompok Remaja Masjid, dan Karang Taruna merupakan potensi kelembagan untuk dijadikan media pembelajaran masyarakat dalam rangka pengembangan masyarakat.

Sementara itu, kelembagaan yang muncul atas prakarsa pemerintah dengan penggalian potensi kelembagaan lokal dapat dijumpai pada kelompok simpan pinjam, PNPM mandiri, PKK/ KB desa, organisasi gotong royong. kelembagaan ini diharapkan berkembang menjadi wadah perjuangan masyarakat miskin untuk meningkatkan kesejahteraan melalui program-program pengembangan masyarakat yang telah berjalan di Desa Mekarjaya.

“Dalam perkembangannya kelembagaan ini belum secara optimal memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan desa. Namun dengan adanya lembaga – lembaga ini cukup membantu meringankan beban masyarakat yang tinggal di Desa Mekarjaya, contohnya program PNPM mandiri yang memberikan dana untuk pinjaman modal bagi masyarakat yang ingin berwirausaha dan memberikan dana khusus bagi kesehatan warga.”tuturnya

Kondisi kelembagaan pengembangan masyarakat yang dibentuk atas prakarsa pemerintah, seperti PNPM Mandiri, RASKIN, BLT dan P3IP perlu dikembangkan dengan program-program aksi pengembangan masyarakat. Esensi utamanya adalah pembelajaran bersama warga untuk meningkatkan kemampuan dalam merumuskan perencanaan pembangunan secara partisipatif dalam rangka penanggulangan kemiskinan.

Pembentukan jaringan kemitraan dan kerjasama diperlukan agar tercipta sinergi antara lembaga-lembaga pengembangan masyarakat dengan pemerintah desa, BPD (Badan Permusyawaratan Desa), dan para pelaku pembangunan lokal lainnya, baik organisasi instansi pemerintah maupun LSM sebagai organisasi non pemerintah. (WARTONO)***