SMP Negeri 9 Kota Tasikmalaya yang berlokasi di Jl.Babakan Siliwangi ini, merupakan sebuah lembaga pendidikan lanjutan menengah di Kota Tasikmalaya dan bahkan di Jawa Barat, yang dinilai sangat peduli terhadap lingkungan hidup. Sebab, sekolah ini punya program penanggulangan sampah berbasis sekolah yang telah diterapkan kepada siswa-siswinya sejak awal Juli 2008 lalu.

“Kami sangat peduli terhadap lingkungan hidup khususnya mengenai sampah. Kalau selama ini, masyarakat memandang sampah selalu menimbulkan masalah, tapi bagi kami justru banyak manfaatnya,”ujar Drs.H.Asep Furqonuddin,MM Kepala Sekolah SMPN 9 Kota Tasikmalaya didampingi Ucu Anwar Surahman staf guru yang menjadi pelopor peduli lingkungan.

Asep Furqonuddin mengatakan, bahwa fenomena masalah sampah nampaknya tidak akan selesai manakala permasalahannya hanya dijadikan komoditas politik, wacana, materi seminar atau obrolan di warung kopi saja. Sementara solusi yang seyogyanya menjadi jawaban atas segala permasalahan yang ada tidak pernah kunjung datang menjadi formula. “Inilah yang menjadi ide awal bagi SMPN 9 Kota Tasik untuk peduli terhadap ligkungan hidup. Setidaknya, sebagai lembaga pendidikan harus menjadi pionir sekaligus sebagai agen perubahan,”ujarnya.

Ucu Anwar Surahman yang juga aktivis LSM KOPLING (Koordinator Peduli Lingkungan Hidup) Kota Tasikmalaya ini menambahkan, melalui aktivitas pembelajaran di tengah masyarakat, adalah metoda yang dianggap efektif dalam upaya menanggulangi masalah sampah yang selama ini dianggap selalu menimbulkan masalah terutama di kota-kota besar..

“Karena itulah, SMPN 9 Kota Tasikmalaya berusaha melakukan terobosan dengan aktifitas konkret dan aplikatif, bagaimana sikap dan mental kepedulian terhadap lingkungan hidup terutama penanggulangan sampah menjadi sebuah pembiasaan dalam keseharian di kalangan masyarakat.,”ungkap Ucu Anwar Surahman.

Dengan dukungan manajerial Kepala SMP N 9 Kota Tasikmalaya, lanjut Ucu Anwar, sarana dan prasarana penanggulangan sampah dapat terwujud sehingga proses pembentukan perilaku dan mentalitas dalam pengelolaan, pengolahan danpemanfaatan sampah telah merubah paradigma masayarakat terhadap sampah. Kini bagi siswa-siswi SMPN 9 Kota Tasikmalaya, bahwa sampah bukan lagi menjadi Cost Oriented (orientasi biaya) , tetapi telah menjadi Profit Oriented (orientasi keuntungan).

“Adapun setting main goal (tujuan utama) dari pembelajaran lingkungan hidup dalam penanggulangan sampah di dalam organisasi kami adalah bagaimana pembiasaan siswa dapat dibawa ke tengah masyarakat, atau paling tidak siswa dapat mengaplikasikannya di rumah masing-masing, sehingga ketauladan yang dilakukan siswa dapat memotivasi warga sekitar untuk melakukan hal yang sama. Dengan demikian, para pelajar SMP N 9 Kota Tasikmalaya sebagai pribadi di tengah masyarakat telah menujukkan dirinya selaku Agent Of Change atau agen perubahan,”papar Ucu Anwar.

Selanjutnya Drs.H.Asep Furqonuddin MM menjelaskan, bahwa pola kegiatan peduli lingkungan hidup dalam hal penanggulangan sampah yang diterapkan di SMPN 9 Kota Tasikmalaya, antara lain: setiap kelas diberi 2 (dua) tempat sampah terpisah melalui pembagian sarana dari sekolah; setiap hari petugas piket siswa melakukan pemilahan sampah (sampah organik dan an-organik); setiap hari melalui petugas piket kebersihan bergilir di masing-masing sampah dibawa ke penampungan sampah ‘parsial’; dan melalui petugas pemandu, siswa piket harian menyimpan sampah yang telah dipilah pada tempat yang telah disediakan (terminal sampah organik, sampah yang dapat di re-cycling, sampah re-use dan sampah reduce) berukuran 3 meter x 1 meter x 1 meter.

“Sesuai jadwal mata pelajaran lingkungan hidup di kelas masing-masing , maka dilakukan pelatihan penanggulangan sampah yang telah terpilah dan terkonsentrasi itu, misalnya proses pembuatan kompos untuk sampah organik, pemilahan sampah dapat di daur ulang untuk sampah anorganik, “jelasnya.

Bahkan setiap hari Sabtu dalam seminggu, menurut Kepala SMPN 9 Kota Tasikmalaya, setiap siswa justru diwajibkan membawa sampah an-organik ke sekolah, terutama sampah bekas air mineral dengan ketentuan sebagai berikut: ukuran cup sebanyak 5 buah, ukuran botol sedang sebanyak 3 buah dan ukuran botol besar sebanyak 2 buah.

Lantas, untuk apa sampah-sampah an-organik berupa bekas air mineral itu? Bukan untuk dibuang ke tong sampah, melainkan dikumpulkan ke petugas Caraka yang telah ditunjuk, atau dijemput ke kelas masing-masing kelas. Pada hari Sabtu itu juga petugas harus dapat menjualnya sehingga pada hari Senin (ketika upacara bendera), hasil penjualan besarannya ‘sampah anorganik’ bekas air mineral dari 1.002 siswa SMPN 9 Kota Tasikmalaya dapat diumumkan sebagai bentuk akuntabilitas dalam gerakan Teman Asuh dan kesetiakawanan sosial.

“Nah, uang dari penjualan sampah anorganik itu dipakai untuk membiayai kebutuhan siswa dari keluarga tidak mampu, yang jumlahnya cukup banyak. Jadi, kami tidak bergantung pada bantuan pemerintah saja, tetapi berinisiatif,”ungkap Drs.H.Asep Furqonuddin MM mengakhiri obrolan. (REDI.M)***