H.EDDY Padmadisastra adalah seorang wartawan senior. Ia lebih suka menyebutnya sebagai koresponden. Karena ia sudah banyak makan asam garam di dunia jurnalistik. Tak mengherankan bila wartawan surat kabar Harian Suara Pembaruan ini cukup terkenal, terutama di Priangan Timur yang menjadi wilayah tugasnya, meski ia tinggal di Tasikmalaya.

Sebagai senior, H.Eddy Padmadisastra mengawali kariernya di dunia jurnalistik sejak 4 Juli 1972 (bertepatan dengan hari jadi pernikahannya) di Sinar Harapan (kemudian berganti nama menjadi Suara Pembaruan) hingga menjadi Ketua PWI Persiapan Priangan Timur selama dua periode.

Secara gamblang memaparkan ‘pengalaman’ perjalanan hidupnya sebagai wartawan mulai dari A sampai Z, bahkan hingga ia melanglang buana; dari satu negera ke negara lainnya.

Profesi wartawan rupanya sudah mendarah daging dalam hidup dan kehidupan suami tercinta Dra.Hj.E.Komariah, pensiunan guru Bahasa Inggris di SMA Negeri Tasikmalaya.Betapa tidak! Meski kini usianya menginjak 80 tahun, H.Eddy Padmadisastra masih tetap aktif mencari bahan berita dan menulis berita untuk dipublikasikan di medianya. Tak kenal lelah menjalani hidup sebagai wartawan. Inilah yang patut diteladani oleh rekan-rekan wartawan yunior.

“Dunia wartawan telah memberi warna tersendiri dalam hidup dan kehidupan saya. Juga memberi kepuasan bathin terutama jika dapat sesama lewat pemberitaan,” ungkapnya.

Karena berita-beritanya dinilai selalu objektif, maka tak mengherankan bila H. Eddy Padmadisastra banyak mendapat undangan dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Bahkan, ia pun pernah beberapa kali mendapat undangan untuk melakukan perjalanan jurnalistik ke luar negeri. Pada tahun 1990 lalu misalnya, Pak Haji yang ternyata adalah anggota Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia ini, sempat melawat ke beberapa Negara Eropa Barat (Belanda) bersama rombongan Bupati Tasikmalaya, yang saat itu dijabat oleh H. Adang Roosman, SH. Selama perjalanan jurnalistiknya bersama rombongan Bupati H. Adang Roosman, SH. tersebut, tentu saja banyak pengalaman yang berharga, dan bahkan banyak bahan berita yang ditulis untuk suratkabarnya. Dalam hal ini ia menulis berita, bagaimana pengaturan para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di pusat keramaian kota di Belanda yang tertib dan tertata dengan baik, sehingga bisa dicontoh di Tasikmalaya.

Demikian pula, bulan Oktober 1994 lalu, ia pun melakukan perjalanan jurnalistik ke beberapa negara Asia seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan dan Jepang atas undangan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Kanwil Departemen Pertanian Jawa Barat.
Pria berperawakan jangkung dengan rambut dan kumis memutih itu mengaku banyak belajar tentang manusia dari profesinya sebagai ‘jurnalis’ wartawan. Untuk menimba informasi yang bermanfaat bagi kepentingan umum, lanjut Pak Haji, maka seorang wartawan harus luwes dan luas bergaul dengan siapa saja mulai dari rakyat jelata hingga pejabat. Selain itu, jangan suka menyakiti hati orang dengan sengaja, apalagi mencari-cari kejelekan pribadinya. Kemudian dimanfaatkan untuk mencari keuntungan pribadi sang wartawan itu sendiri, terutama materi.

Dengan prinsip kerja seperti itu, yang merupakan pencerminan keimanan dan sikap taqwanya kepada Allah SWT sebagai muslim, H. Eddy Padmadisastra merasa tidak mendapat kendala apapun dalam menulis ‘berita’ apa yang seharusnya ditulis. Bahkan, dalam upaya mempertebal keimanannya ia pun seringkali riadhoh atau pengajian ke Pondok Pesantren Suryalaya pimpinan Abah Anom (KH.Akhmad Shohibul Wafa Tadjul Arifin) di Pageurageung.

Pria ramah ini lahir di Kawali, Kabupaten Ciamis dan menikahi Dra. Hj. E. Komariah, guru Bahasa Inggris di SMA Negeri Tasikmalaya pada tahun 1959, kemudian dikaruniai tiga orang anak, yakni Rita Sabarniati, SH, M.Si. dan Sri Widyawati, SH, S.IP serta Bambang Kusnohadi, S.IP.

Hj. E. Komariah sangat mendukung terhadap H. Eddy Padmadisastra dalam menjalani profesinya sebagai jurnalis. Karena itu, sang istri tercinta selalu mendampingi dalam keadaan suka maupun duka, juga memahami profesi wartawan yang berbeda dengan profesi lain; yakni kerja yang tak mengenal batas waktu. Selama ini, pria energik ini selalu konsisten pada prinsip hidupnya; bekerja selalu tekun, serius dan jujur sebagai tugas hidup karena Allah. Dia mengaku, profesi wartawan sebagai social control merupakan suatu tugas yang mulia.

Jika tak ada aral melintang, H Eddy Padmadisastra akan menuliskan riwayat “perjanan” hidupnya melalui buku “Sang Jurnalis” yang disusun oleh Redi Mulyadi, dengan harapan dapat diteladani oleh rekan-rekan wartawan yunior. (REDI MULYADI)***