PADA peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2010 yang lalu, suasana di halaman kantor Kecamatan Sukamantri Kab.Ciamis tampak ramai dikunjungi orang, terutama kalangan pelajar yang menyaksikan pentas kesenian tradisional Bebegig Sukamantri. Apalagi saat itu hadir seorang artis bule Shasha yang mengisi acara Wara-Wiri bersama pelawak Komeng.

“Walaupun bertepatan dengan peringatan Hardiknas, tapi yang punya gawe menggelar kesenian Bebegig Sukamantri, yakni pihak Muspika Kecamatan Sukamantri bersama UPTD Pendidikan Sukamantri. Pak Camat sekarang tampaknya penuh perhatian terhadap kesenian ini, ”ungkap seorang warga.

Bahkan pada peringatan HUT ke V Kecamatan Sukamantri, kesenian tradisional Bebegig Sukamantri ditampilkan secara meriah, dengan melibatkan sejumlah grup kesenian Bebegig dan para tokoh seniman, serta warga masyarakat di kecamatan ini.

Kepala UPTD Pendidikan Sukamantri Rd.Uun Harun SPd membenarkan, bahwa pihaknya berupaya ingin turut melestarikan dan mengembangkan ‘seni budaya’ kesenian tradisional khas daerah, yakni Bebegig Sukamantri yang kini hampir punah karena kurang peminatnya.

“Dengan sering ditampilkannya semacam pada peringatan Hardiknas, HUT Kemerdekaan RI dan hari besar nasional lainnya serta menyambut tamu pejabat, maka diharapkan kesenian Bebegig Sukamantri ini tetap lestari dan bahkanberkembang,” ungkap Rd Uun Harun.

Karena itu tidaklah berlebihan, Rd Uun Harun mengaku setuju ji

ka kesenian tradisional Bebegig Sukamantri masuk mata pelajaran mulok, yang dikembangkan di tiap lembaga pendidikan terutama tingkat sekolah dasar hingga SMA.

Ruslan Mulia SPd MM pimpinan Group Baladewa dari Desa Sukamantri mengatakan, bahwa Bebegig Sukamantri sangat berbeda dengan bebegig atau orang-orangan sawah yang ada di daerah lain, karena Bebegig Sukamantri adalah manusia yang mengenakan topeng, seperti topeng barong dari Bali.

“Adapun yang membedakannya, topeng ini mengenakan rambut gimbal dari susunan bunga rotan atau bunga caruluk atau disebut bubuai. Hal ini sengaja sebagai isyarat mencintai alam. Sedangkan bebegig yang pada umumnya dibuat mirip boneka menggunakan pohon padi atau sejenis, terus dibalut pakaian layaknya manusia yang turun ke sawah.”ungkap guru SMPN 1 Sukamantri ini.

Dia menjelaskan, keberadaan kesenian bebeging merupakan ’titinggal’ peninggalan masyarakat Desa Cempaka, Kec. Sukamantri, Kab. Ciamis yang meyakini bahwa bebegig merupakan perlambang kemenangan. Sebab, pembuatan bebegig diilhami wajah Prabu Sampulur yang memusnahkan kejahatan dan meminta imbalan untuk menguasai Pulau Jawa.

”Kemenangannya dikenang dengan membuat kedok seperti wajah Prabu Sampulur. Oleh masyarakat Kabupaten Ciamis, khususnya masyarakat Desa Campaka dan sekitarnya,bebegig direpresentasikan sebagai penjaga lingkungan alam sekitar.”tutur Ruslan Mulia

Bebegig Sukamantri mulai dipopulerkan pada tahun 1950-an oleh masyarakat setempat. Setiap tanggal 17 Agustus Bebegig Sukamantri memberikan suasana kemeriahan nan sakral di Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis. Kepopuleran kesenian tradisional ini pun tak terlepas dari adanya peran seniman dan budayawan Ciamis Godi Suwarna dan Rachmayati Nilakusumah, S.Sen. yang sangat memperhatikan keberadaan seni-seni tradisional yang ada di Kab.Ciamis.

Seni ini terbilang spektakuler karena melibatkan banyak orang untuk ikut arak-arakan dalam upacara adat ngarumat (memelihara) alam yang sudah menjadi tradisi masyarakat setempat. Rambut gimbal sang bebegig yang terbuat dari bunga caruluk seberat 40-60 kg merupakan ungkapan rasa cinta pada alam sekitarnya. Tradisi khas Ciamis ini sengaja diangkat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar untuk mengikuti festival budaya di Istana Negara Jakarta, 18 Agustus lalu maupun pada acara Kemilau Nusantara Jawa Barat.

“Bahkan, sejumlah grup kesenian Bebegig Sukamantri termasuk Grup Baladewa sering tampil ke berbagai kota, termasuk turut memeriahkan HUT Kabupaten Nagara di Pulau Bali pada tahun kemarin,”ungkap Ruslan Mulia SPd MM bangga.(REDI MULYADI/ENDANG SUTRISNO)***