SEBAGAIMANA diketahui bahwa salah satu tujuan penting dari pendidikan nasional seperti termaktub dalam UU Nomor 22 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, adalah mengembangkan peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa. Dalam hal ini ada capaian dari pendidikan agar peserta didik bisa menjadi insan yang agamis (religious) sekaligus mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk membentuk peserta didik menjadi insan yang agamis, maka pendidikan agama di sekolah harus diarahkan mencapai empat pilar. UNESCO (badan PBB yang menaungi bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, serta kebudayaan –red) mencanangkan empat pilar itu sebagai learning to know (pemahaman), learning to be (pembentukan sikap), learning to do (keterampilan), dan learning to live together (kerukunan hidup).
Meski sudah ada rambu-rambu seperti ini, namun kenyataan pendidikan agama di sekolah baru mencapai pilar pendidikan yang pertama. Tiga pilar yang lain sebagai penjelmaan hasil pendidikan agama dalam bentuk tindakan aplikatif (pengalaman) kebanyakan belum banyak yang berhasil. Indikasinya, peserta didik memiliki kemampun menyelesaikan soal ujian tentang agama,tetapi tindakan dan perilakukanya sehari-hari kerap menyimpang.

Hemat penulis, paling tidak ada dua hal yang harus dilakukan agar keempat pilar tersebut bisa dicapai. Pertama, melakukan evaluasi (penilaian) terhadap pengalaman ajaran agama peserta didik di dalam kehidupannya sehari-hari. Kedua, adanya dukungan dari orang tua dan masyarakat terhadap pendidikan agama di sekolah. Tanpa dua hal ini memang cukup berat untuk bisa memaksimalkan capaian dari pendidikan agama.
Selama ini tes atau ujian mata pelajaran agama hanya ditekankan untuk mengukur kemampuan pemahaman peserta didik. Guru tidak menyertai dengan penilaian terhadap perilaku dan pengamalan ajaran agama di dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya anak tidak termotivasi untuk mengamalkan ajaran agama, sebab menurutnya, mendapat nilai tinggi bisa diraih cukup dengan pemahaman saja.

Bila dicermati, mata pelajaran agama sesungguhnya berbeda dengan mata pelajaran umum lain. Dalam belajar agama sangat dituntut adanya tindakan nyata dalam perilaku kesehariannya. Apalah artinya bila seseorang yang hanya memahami bahwa mencuri itu dosa namun masih sering mengambil dan merampas hak milik orang lain? Dengan demikian perlu dibentuk kebiasaan anak untuk mengamalkan ajaran agama.

Langkah kedua agar hasil pendidikan agama dapat dijelmakan dalam bentuk tindakan aplikatif di dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik adalah dengan pemberian dukungan dari orang tua dan masyarakat terhadap pendidikan agama yang dilaksanakan di sekolah. Tanpa adanya dukungan dari orang tua dan masyarakat maka pendidikan agama yang dilaksanakan di sekolah tidak akan berhasil dengan baik.

Salah satu bentuk dukungan yang bisa diberikan adalah memberikan contoh yang baik dalam mengamalkan ajaran agama. Juga bisa dengan memberi nasihat serta bimbingan yang bisa berdampak positif untuk penguatan psikologi anak. Secara teori anak memang memiliki kecenderungan untuk belajar melalui proses modelling atau mengikuti kelakuan dan contoh dari orang lain.

Sebaliknya, kalau tindakan dan laku perbuatan orang tua, tokoh agama, pejabat dan tokoh masyarakat bertentangan dengan norma agama maka akan berdampak negatif terhadap perkembangan agama dan jiwa anak. Lebih parah lagi bisa jadi anak akan mengalami konflik batin dan frustasi yang bila berlangsung terlalu lama maka bisa meledak dalam bentuk tindakan yang bertentangan dengan norma agama itu sendiri.
Dengan pemahaman dan aplikasi ajaran agama serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka diharapkan peserta didik sebagai generasi penerus bangsa akan tumbuh menjadi ilmuwan yang agamis, dan berakhlak mulia seperti yang ingin dicapai oleh tujuan pendidikan nasional. Semoga. (*)